Minggu, 05 Juli 2015

9 tahun untuk selamanya



kabar gembira..!!
terucap lantang dari bibir kawan baru yang tiba-tiba kuanggap keluarga.
sudah jauh dia berkelana, sampaikan kabar yang begitu buat hatiku menganga.
"maspen sama mbak nyit ulang tahun pernikahan" katanya dengan mata bahagia.

belum lama aku mengenal seorang penagenic. bertemu, dan saling beradu pandangpun, hanya sekali. 
entah mengapa rasa bersaudara tiba-tiba juga muncul.
menjabat tangannya, memeluknya (sebenernya pingin cipika cipiki juga), lalu bercanda dan diskusi sederhana.

-satu lagi bukti Tuhan adalah segala-galanya-

esok, tanggal 5 juli 2015, waktu gulirkan lagi kuasanya. membawa lagi kenang tentang awal pernikahannya dengan wanita pujaannya. di waktu berbeda, tapi rasa masih sama.

tak banyak aku tahu bagaimana kalian.
tapi telingaku cukup teduh mendengar semua cerita kemesraan kalian.

entah harus dari mana aku ucapkan selamat, entah harus kuawali seperti apa bahagiaku untuk kalian.
tapi kudoakan semua terbaik untuk kalian. tetap menjadi manusia yang penuh cinta. tetap menjadi manusia yang penuh mesra.

usia berlalu, satu demi satu. tapi rasa, tetap selayaknya di awal dulu..

-jember, 3 juli 2015-

Selasa, 07 April 2015

keris raja keluar sarang

kelak sang putra mahkota, juga akan tersungkur di belakang kaki kuda perangnya. 
lalu memaksa mulutnya utuk jujur mengakui kemenangan musuhnya. 
dan para hulu balang kocar kacir pulang ke pulukan istri-istri mereka. 

berita buruk..!
pasukan mundur dengan kekalahan. 

sang raja coba tutupi gelisahnya. 
permaisuri menangis di belakang tahta rajanya. 
putra mahkotanya tak bernyawa. 
"jangan korbankan lagi anak kita, raja..!" pinta permaisuri dalam tangisnya. 

bimbang hati raja. 
satu di antara sisi hatinya ingin tangisi kepergian putra mahkotanya. 
satu lagi harus menjaga wibawa. 

rakyatnya butuh ketegasan. 
rakyatnya butuh perlindungan. 
dan kerajaannya tak bisa lama tenggelam dalam kedukaan. 
semua masih berjalan.
seperti sebelumnya, bahkan harus lebih berkuasa..!

bala tentara musuh tak diketahui ada di mana. 
waktu peperangan sudah tak bisa diterka. 
hitungan minggu..?
hitungan hari..?
atau bahkan hitungan jam..?

berputar otak raja. 
menyerah bukan jalan terbaik penguasa. 
tapi mengorbankan rakyat juga bukan solusi terbaiknya. 

dia angkat kerisnya. 
dia tinggalkan secarik kertas berisi titah dan warisan kerajaan untuk putri bungsunya. 
takut jika tubuhnya kembali tak bernyawa seperti putra mahkotanya.

kadang kita harus berkorban demi apapun dan siapapun tanpa memandang apapun dan bagaimanapun.  

Minggu, 29 Maret 2015

menua berdua

menua berdua

sayu mata lelaki baya memandang mesra senyum kekasihnya.
tersenyum hatinya.
tangan kanannya membelai lembut rambut kekasihnya.
tersenyum bibirnya.
mendaratkan kecup lembut di kening kekasihnya.
bahagia mereka.

seperti doa mereka pada Tuhannya.
mencinta,
berdua,
selamanya.

ada bahagia karna Tuhan menjaga keutuhan cinta mereka.
tapi ada kesedihan yang sebenarnya tak bisa mereka pendam selamanya.
iya, cinta mereka hanya berdua.
tidak ada orang ketiga di hidup mereka.

hari demi hari saling mencinta.
kopi pagi terhidang begitu hangat di beranda rumahnya.
sapa dan senyum hangat tak pernah luput dari kemesraan mereka.
itu cinta, buta.

di satu sisi hati mereka ada kegelisahan.
tentang penantian yang tak kunjung Tuhan berikan.
satupun anugrah tak kunjung jatuh di pelukan.
mereka tak punya keturunan..!!

sudah tak mungkin lagi untuk menyesal.
waktu telah berlalu begitu jauh.
keriput di wajah mereka tak bisa tutupi bergulirnya masa.
tapi senyum masih saja ada.
senyuman cinta.

cinta,
bukti mana yang bisa tandingi mereka..?
kesetiaan mana yang bisa kalahkan mereka..?
waktu dan keikhlasan merekalah rajanya.

tidak ada saling adu telunjuk.
menyalahkan siapa yang bersalah.
yang ada hanya adu peluk.
saling melingungi dan menjaga kemesraan dan tak ada yang kalah.

Tuhan,
Kau buktikan sebuah cinta yang mengagumkan.
sebuah kisah indah yang tak semua bisa sanggupkan.
cinta dua manusia yang terlena cinta berdua hingga menua.
menjaga, dan dijaga.
mengasihi tanpa meminta balasannya.

siapa yang salah..?
mereka..?
Tuhan..?
waktu..?
takdir..?
bungkam mulutmu yang hanya bisa menggerutu.
diam dan rasakan bagaimana jika kau seperti itu.

merekalah bukti cinta yang menua berdua. 

bersulang dengan fajar dunia

ada seekor mangsa yang waspada diintai mata elang dari balik rimbun cemara. 
ada sepasang angsa yang pura-pura mesra saling tukar menukar liur di hadapan selingkuhannya. 
ada parkit kecil yang nyaring bernyanyi dalam sangkar emas tapi terpisah jauh dari induknya. 
tapi juga ada yang diam. 
angan,
angan yang tak bisa bergerak meski tersapu angin. 
mimpi, 
mimpi yang tak bisa beranjak meski ditimang dansa komedi putar. 

hati tak bernyali. 
dibakar berang api. 
dihabisi tak sisakan secuil nadi. 
mati di pangku belati. 

pada akhirnya, bumi hanya berputar. 
tidak berlalu gontaikan sepasang tangannya begitu saja. 
mungkin Tuhan masih beri kesempatan, mengulang dan membenahi yang pernah berlalu. 

dara, malam sudah berganti. 
nafsu mentari sudah tak tahan ingin injuk diri. 
lalu buka mata indahmu, lihat sekitarmu, bersihkan semua jaring laba-laba yang halangi gerakmu. 
kau berhak untuk itu. 

coba kau isi lagi cangkir usang yang telah lama kosong. 
racik semua tentang pahit kemarin. 
lalu beri manis mimpi yang kau perjuangkan. 
seduh dengan hangatnya cinta. 
lalu aduk dengan setia. 
seduhan pertama,
seduh dan bersulang dengan fajar dunia. 
jadikan seduhan terhangat untuk temanimu buka hari. 
beri senyuman seperti senyum pendosa yang menyalami para sipir dari luar jeruji besi. 
nikmatilah sendiri. 

kini, buat hatimu bernyali lagi. 
buktikan pada api. 
buktikan nadimu berdetak kembali. 
lalu gunakanlah belati merobek pasung diri. 

karna kau layak jadi dirimu sendiri. 

Sabtu, 07 Februari 2015

anak raja patah kakinya

malam datang dengan romansa.
menceritakan tentang keangkuhan dunia. 
diperankan oleh seorang lelaki bernyali.
anak raja yang doyan letakkan tangannya di pinggang kanan.

semua tunduk di kaki anak raja.
kilap sepatunya seperti hasil jilatan orang-orang sekitarnya.
uang bukan masalah baginya.
bahkan untuk cinta, biar harta yang bicara.

seorang wanita pesolek berlenggak di depannya. 
pinggulnya bergoyang merayu nafsu.
matanya jeli melihat dompet tebal mana yang akan jadi mangsanya.

berdua mereka memburamkan pandangan sekitarnya.
menyibakkan sisa-sisa norma yang seharusnya.
cinta..? 
kalian nilai saja..

tapi malam menjadi indah.
tak ada teriakan perintah anak raja yang sombong.
tak ada cemooh anak raja yang songong.
semua tenang seperti malam yang seharusnya.

hey nona, kau patahkan satu kaki anak raja itu.
aku berterima kasih untuk goyang pinggulmu..

ah, andai semua itu mimpi

di senja yang biasa
ada kita yang mengadu mesra.
bercanda bagai pemilik sah dunia.
bertingkah bak dewi dan dewa..

tak ada satu carik bagian kebahagiaan
yang tak kita rasakan.
bahkan dosa kita lakukan teratas nama kesetiaan.
meski kau melenguh kesakitan..

secangkir kopi jadi saksi.
dua anak manusia meninggi tak terkendali.
merayu mesra dan saling memanja.
mengandaikan masa depan yang bahagia..

seperti petir membelah mentari.
tiba-tiba kau pergi.
senyum yang selalu mencumbuku lenyap bak ditelan bumi..

bekas jejak langkah hanya mampu kupandangi.
mungkin karna kaki tak bisa lagi berlari.
diam tertegun dengan semua yang terjadi.
ah, andai itu semua mimpi..


jangan membenci