Senin, 26 Januari 2015
kurcaci sendiri
Kamis, 25 Desember 2014
jangan menangis, kopi
membawa serta luka lalu.
menggigil bagai dingin.
walau pelukan hanya sebatas ingin.
pernah kau menangis, kawan.
menangisi semua tentang kehilangan.
tentang nyawa, rasa, harta, juga cinta.
air mata seakan tak henti kau deraikan.
rengekkan tanpa ujung kau teriakkan.
mengais yang tersisa,
mencari yang masih ada,
dan menemukan yang sudah tiada.
seorang anak berteriak,
menemukan potongan tangan ayahnya yang telah kaku membiru di bawah serpih reruntuhan.
seorang wanita dengan sesenggukannya yang jarang,
masih berusaha mencari balitanya yang tersapu ombak lepas dari pelukan.
seorang lelaki kebingungan mencari kesana-kemari keluarganya yang telah hilang saat dia membuka mata.
Tuhan tunjukkan kuasanya,
bumi diperintahkan tunjukkan kedigdayaannya.
seakan airpun bisa bernyawa.
dan manusia hanya bisa diam saja memandang yang tak pernah terpikirkan olehnya.
mereka sebut bencana.
mereka sebut musibah.
tapi Tuhan selalu punya cara untuk mengingatkan.
kini waktu telah berganti, kawan.
tangis yang dulu,
kini menyisakan kenangan.
luka kehilangan, membekas begitu dalam.
tapi percayalah, Tuhan tak akan tinggal diam.
dari ujung sana, percayalah.
percayalah cinta akan tiba pada saatnya.
lalu tegaplah lagi.
berdiri dan memandang terangnya mentari.
berdiri dan kembali menantang mentari esok pagi.
dari sini,
barisan doa kuaamiini di tiap tegukkan kopi.
Jumat, 31 Oktober 2014
kopiku diaduk pensil
ramai sapa pagi.
secangkir kopi temani diri sendiri.
riuh gaduh suara canda terlihat lembut di kebersamaan yang terhalang jarak.
"pagi", kata mereka.
membalas dan saling membalas tentang ucap pagi.
jarak tak lagi bisa meninggi egonya.
karna hangat sapa sederhana dari sahabat, selalu mampu pecahkan hening kegelisahan.
mungkin ruang memenjarakan raung.
mungkin tangan tak saling berjabatan.
tapi rasa saling menjaga, ada di setiap sapa dan kisah mereka.
di sana aku seakan menyapa luas dunia.
surabaya, malang, banyuwangi, jakarta, makasar, bogor, aceh, jember, bahkan ausatralia, saling menyapa pagi meski beda waktu mereka.
mengisi keresahan,
membagi canda kebahagiaan,
menjaga untuk tak saling hanyut dalam keresahan.
ah, mereka saudara yang pernah Tuhan pisahkan.
kadang mereka tertawa menghabisi kebodohan,
lalu bahagia dengan saling membalas sajak hebat.
maklum saja, mereka penikmat dan ibu yang siap lahirkan segal sajak tentang dunia.
mereka, punya cara untuk bersama.
meski jarak memisahkannya.
kadang mereka ceritakan resah,
lalu satu-persatu mengisi,
satu persatu memberi petuah.
sekedar mencoba saling hilangkan rasa resah.
kadang mereka membully,
dengan saling menghabisi.
tapi entah, seakan mereka curahkan kasih sayang dari segala yang mereka utarakan.
semoga waktu bisa tahu,
semoga pekatnya jarak bisa saling merebak.
lalu kebersamaan, mejadi kekuatan dalam hangat api unggun persaudaraan.
kalian, saudara yang pernah Tuhan pisahkan..
kopiku diaduk pensil.
si sexy pulang pagi lagi
paras ayu,
senyum manis,
mata tajam,
memandang goda untuk tiap yang dilihatnya.
dia wanita muda,
di hatinya ada keteguhan.
di benaknya sudah ada beban.
di pundaknya beberapa orang menggantungkan.
tapi sayang, dia wanita yang tak bisa berfikir panjang.
malam itu begitu keruh.
bak benang kusut yang menggumpal di otaknya.
segala beban yang ada,
segala masalah keluarganya,
seakan ditujukan kepadanya.
wanita muda usia.
sudah pernah diinginkan dunia yang sewajarnya.
sudah pernah sedikit dijalani bahagia yang semestinya.
tapi munkin dunia masih ingin menggoda.
dengan serentetan carut masalah yang menyapanya.
mungkin karna mudanya,
mungkin karna pengalamannya,
mungkin karna sekitarnya,
mungkin karna yang dia tahu itu saja.
langkahnya seketika kembali pada arah yang pernah dia palingkan.
menyapa malam lagi dia.
aroma bir tercium sudah.
asap-asap rokok menyesak di nafasnya.
teriakan demi teriakan terlontarkan.
meluap semua beban yang dia rasakan.
di tubuh sexynya,
tangan tangan lelaki memeluk menggoda.
bibir-bibir busuk lelaki mencoba meraih pipi dan lehernya.
tapi dia coba untuk bergeming.
tak membalas semua yang menimpanya.
mungkin sisa imannya masih ada.
mungkin sisa ibadahnya masih terasa.
ah, tapi apa yang bisa dilakukan wanita muda sepertinya.
dunia seakan permainkan semua.
memegang peranan penting di hidupnya.
memutarkan mimpi dari impiannya.
lalu merangkau jalan menunjukkan kembali kegelapan.
menangislah, seharusnya.
berteriaklah, seharusnya.
habiskan sisa air mata.
enyahkan semua penat dunia.
karna kelak, malam ini tak akan pantas kau jadikan kenangan manis di sisa hidupmu yang bahagia.
kopiku, jangan disalahkan
hampar hijau nan indah,
terpecah.
ranting jatuh gelisah,
menyapa gundah gersangnya tanah.
kaki berjalan tak henti.
telusuri ilalang rimbun.
setapak jalan dan kegelapan.
selangkah demi selangkah kepercayaan.
memuaskah rasa keingin tahuan.
di ujung sana,
suara gaduh seakan menyapa.
lelaki-lelaki tak lelah dunia.
bermandi canda,
membungkus realita.
kulihat mereka bermandi keringat.
sesekali diusap.
meski tak kunjung kesring,
meski tak kunjung habis,
tapi itu cara mereka kuat.
teguh sepertinya.
keyakinan seadanya.
yang mereka rasa,
hanya bayang nyanyian perut anak istrinya.
satu demi satu tumbanglah sudah.
menebas kesombongan gagah.
mencabut akar dari pelukan tanah.
sekuat tenaga mereka.
sehebat sisa nasi mereka.
seorang tambun dengan tangan di kantong jaketnya berteriak.
perintah seakan menjadi sabda wajib mereka.
melibas semua yang tersisa.
hei, ada kopi.
duduk aku menyapa mereka.
seakan ingin sejenak istirahatkan lelah mereka.
kubincangkan tentang lain sisi dunia.
menikmati kopi jatah mereka.
merasakan betapa pahit sebenarnya hidunya.
membagi kisah sedih,
mencampur tawa seadanya.
bukan tentang bagaimana yang semestinya.
tak akan bisa melawan kejamnya dunia.
jangan memandang hanya dari cara saja.
tapi bagiamana mereka tak lakukan yang tak sewajarnya.
mereka berdosa.
mereka tau itu.
tapi alangkah hinanya,
lelaki tambun yang hanya bisa cuapkan perintah itu.
yang munafikkan hidupnya.
yang bergaya seakan tak dosa.
yang berkata seperti dewa kebenaran saja.
tapi tangan kirinya mencekik leher lelaki-lelaki suruhannya, dan tangan kanannya membunuh tanpa ada sisa darah.
kopiku, jangan disalahkan.
Jumat, 17 Oktober 2014
pantai sepi saksi abadi
sendiri melangkah.
di pesisir pantai kosong.
hanya cengkerama mesra ombak dan angin saja.
lalu tersambut pasir halus.
sampai tepian kakiku.
itu saja.
sepi dan kosong.
jika saja mungkin.
kukatakan sepi adalah virus.
yang seakan juga racuni sendi-sendi hati.
lalu semakin kian sendiri.
semilir angin begitu lembuh.
menyapa halus berpagut.
pernah kutulis namanya
di pasir pantai ini.
bukan putih,
tapi pasir hitam.
tepat di samping dermaga yang diam.
lalu pernah kuceritakan
pada ombak di sini.
bagaimana lembut tiap sapa tangannya memelukku.
bagaimana tiap detail sennyumnua yang slalu mampu bangkitkan semangat mudaku.
bagaimana dia selalu ada untuk selalu ingatkanku segala hal.
kini,
aku berdiri di sini.
masih seperti dulu,
sendiri.
hanya berteman sepi.
tapi entah,
mengapa virus sepi sudah menjalar pada hati.
mengakar kuat dan tak ingin pergi lagi.
yang seakan mengaamiinkan sepi pantai ini menjadi kian begitu sepi.
mungkin ini karna waktu.
atau,
mungkin aku yang tak pandai menjaganya.
tapi yang jelas ini bukan karna egonya.
yang memilih pergi dan berlalu.
kuhargai setiap pilihannya.
mungkin saat itu aku begitu tak pantas
meski hanya untuk sekedar disejajarkan sebagai pilihan.
aku terima..
pantai masih berkawan denganku.
meski kopi yang kubawa tak sengaja kutumpahkan.
meski puntung rokok berkali-kali kubenamkan di tanah pantai.
tapi pantai ini masih berkawan denganku.
menyapaku dengan anginnya yang lugu.
biar.
biar kini kujadikan pantai inisahabat baruku.
tempat di mana aku selalu bisa bebas dan tenang.
sampai saatnya nanti.
sampai saatnya dia kembali lagi.
lalu datang dengan senyuman
memelukku lagi.
dan akan kujadikan pantai sepi ini sebagai saksi yang abadi.
kenang di tenang makam
rimbun.
ranting kamboja menutup anggun.
licin jalan setapak.
dihias hijau lumut.
sejuk.
jasad-jasad terbujur tenang.
menghening ditiup semilir angin.
seakan nuansa membawa serta.
dan nisan-nisan menjadi cerminannya.
di ujung sana, biru makam ayah.
berjajar dengan nisan saudaranya.
teduh juga,
rimbun juga,
tenang juga,
seperti lainnya.
anakmu datang, ayah.
entah ini waktu ke berapa aku duduk sendiri di sini.
sedang menghapus rindu,
meski tak pernah benar-benar terhapus.
lalu berbicara mengadu.
memanja seperti gila.
seperti halnya kau begitu dekat mendengar semua.
masih tajam di ingatanku, ayah.
bagaimana tangisku pecah,
saat kuantar kau untuk yang terakhir kalinya.
saat kulihat bagaimana senyummu untuk terakhir kalinya.
tubuhmu seperti diam membiru,
terbujur kaku,
bisu.
lalu tangan-tangan kokoh mereka menopangmu.
tapi senyummu seakan tak pernah ingin berlalu.
seperti ingin selalu ada di setiap waktu.
ayah,
di balik putih jubahmu,
ada tubuh hangat yang selalu sanggup memelukku.
di balik jubah putihmu,
selalu ada cinta kasih yang selalu sanggup bahagiakanku.
di balik jubah putihmu,
selalu ada senyum yang kau hidangkan setiap tangisku.
dan kau telah terbujur kaku, ayah.
lalu aka hanya bisa memandangmu.
duduk sendiri dengan tangis yang tak lagi bisa dibendung.
meski dengan menolak peluk ibu yang ditawarkan.
melihat mereka satu persatu,
menutup liang lahatmu.
menutupnya dengan tanah,
dan aku hanya menangis saja, ayah.
melihat mereka memasang nisan,
aku tetap menangis, dan semakin menjadi.
hanya sederhana yang kubayangkan.
tak ada lagi pelukanmu.
tak ada lagi candaanmu.
tak ada lagi petuahmu.
tak ada lagi cakap hangat saat berbagi kopi denganmu.
tangis semakin pecah, ayah.
kau pergi.
kau tidur abadi.
dipangku bumi.
menyapa rumah Illahi.
ayah, sujud simpuh kupersembahkan untukmu.
maaf yang belum sempat kuucapkan langsung di hadapanmu.
maaf untuk semua dosa yang kulakukan, ayah.
untuk semua kebodohan dan ketidak tahuanku..
maaf, ayah..